SURABAYA – Sebagai langkah nyata dalam mengatasi keterbatasan akses air bersih di kawasan pedesaan, kolaborasi internasional sukses mengenalkan Inovasi PAM Graviti. Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan World University Association for Community Development (WUACD), Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), serta Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
Pengenalan teknologi tepat guna ini diselenggarakan di Balai Desa Ketapanrame sebagai bagian dari rangkaian program Kembara Rahman.

Solusi Air Bersih Tanpa Listrik Melalui Inovasi PAM Graviti
Gagasan mengenai Inovasi PAM Graviti dirancang oleh pakar UTM, Prof. Madya Ts. Dr. Saiful Anuar bin Abu Bakar. Teknologi ini mendistribusikan air bersih secara efektif dengan memanfaatkan tekanan alami bumi tanpa memerlukan energi listrik tambahan.
Kehadiran teknologi ramah lingkungan ini menjadi solusi ekonomis untuk menekan biaya operasional penyaluran air warga secara signifikan.
Pelatihan Teknis bagi Pengelola BPAM Tirto Tentrem
Dalam pelatihan tersebut, sasaran utama ditujukan kepada para pengelola BPAM Tirto Tentrem Ketapanrame. Delegasi memberikan peragaan langsung mengenai tata cara perakitan pipa paralon dan instalasi teknis, berpadu dengan penayangan video simulasi.

Ketua Pelaksana Kembara Rahman, Adam, menegaskan bahwa demonstrasi interaktif ini bertujuan membekali warga desa dengan kecakapan mandiri. Dengan demikian, warga dapat mengelola dan merawat fasilitas air bersih tersebut untuk jangka panjang.

Dukung Pencapaian SDGs dan Kemandirian Masyarakat Desa
Penerapan teknologi tepat guna ini tidak hanya menjawab krisis air pedesaan, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Sinergi antara akademisi lintas negara dan masyarakat desa menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis pemecahan masalah.
Melalui Inovasi PAM Graviti, Desa Ketapanrame kini memiliki model pengelolaan air bersih yang mandiri, hemat biaya, dan ramah lingkungan.