{:id}Pakar Biologi UNAIR: Mutasi COVID-19 dan Dampaknya Terhadap Sistem Imun Manusia.{:}{:en}UNAIR Biologist: COVID-19 Has Mutated, This Is The Impact on Human Immune System.{:}

Date

Persoalan penanganan pandemi COVID-19 belum selesai. Jumlah kasus juga belum turun secara signifikan, sedangkan obat yang diduga bisa digunakan untuk menyembuhkan baru saja ditemukan dan belum efektif digunakan. Virusnya belum hilang hingga saat ini, dan bahkan mengalami mutasi. Mutasi virus inilah yang tentunya menuntut kesiapan sistem kekebalan tubuh manusia untuk menangkal dan membunuhnya.

Dr. Sri Puji Astuti Wahyuningsih mengungkapkan sejumlah literatur yang menyatakan bahwa COVID-19 merupakan virus yang mempunyai materi genetik berupa ARN (asam atau RNA positif). Materi genetik dari virus korona dilindungi oleh lapisan dinding protein yang dinamakan spike (S) protein. Protein S berbentuk mirip anak panah yang menutupi bagian luar virus.

“Protein inilah yang berperan penting dalam perlekatan dan infeksi pada sel-sel pernapasan di paru-paru dan sering digunakan sebagai kandidat utama dalam pembuatan vaksin,” tegasnya.

Ilustrasi Protein S. (Sumber: accessscience.com)

Guru Besar Fisiologi Hewan dari Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga tersebut menjelaskan bahwa ditinjau dari karakteristiknya, COVID-19 ini tidak mampu hidup jika tidak menginfeksi makhluk hidup. Saat virus menginfeksi sel paru-paru, materi genetik yang berupa RNA masuk sel inang, sedangkan lapisan dinding protein hanya digunakan untuk menembus membran sel paru. Jika protein S menempel pada sel, membran sel inang akan terbuka dan RNA dapat masuk sel.

“Selanjutnya, virus akan berusaha untuk memperbanyak diri dengan dengan proses yang dinamakan replikasi. Replikasi RNA ini diproses oleh enzim RNA polimerase yang terkadang salah dalam membaca urutan kode genetik RNA virus sehingga yang terbentuk urutan basa nukleotida yang baru. Hal inilah yang menyebabkan adanya mutasi,” ujarnya. Mutasi yang terjadi berupa berubahnya urutan nukleotida pada RNA maupun urutan asam amino penyusun protein-protein dinding sel virus.

Lebih lanjut lagi, Dr. Sri Puji mengatakan bahwa sejak pertengahan Maret 2020, telah ada sebanyak 13.000 sampel virus yang telah dianalisis oleh peneliti di Inggris. Dari hasil penelitian sampel ini, ditemukan bahwa mutasi muncul sekitar dua kali dalam sebulan. Sementara itu, pada April 2020, peneliti di Jerman mengidentifikasi tiga kelompok genetik utama virus koron yang diberi nama A, B, dan C. Kelompok A dan C sebagian besar ditemukan di Eropa dan Amerika, sedangkan kelompok B lebih umum di Asia Timur.

“Ilmuwan di Amerika Serikat juga menemukan mutasi COVID-19 yang dianggap memiliki strain yang jauh lebih mematikan daripada sebelumnya,” ujar Dr. Sri Puji. Mengutip dari Sky News, peneliti di Los Alamos National Laboratory menjelaskan telah mendeteksi 14 mutasi protein pada virus ini, salah satunya dikenal dengan nama Spike D614G. Dari riset ini ditunjukkan bahwa mutasi yang pertama kali teridentifikasi di Eropa ini berbeda dengan yang menyebar di awal pandemi.

“Lonjakan mutasi protein tersebut membuat para ilmuwan khawatir karena protein itulah yang membuat virus korona mudah menyebar,” tegas Dr. Sri Puji.

Lantas, apa dampak mutasi virus ini terhadap sistem imun manusia? Mutasi virus, terutama pada proteinnya, merupakan pertahanan virus untuk menghindarkan diri dari sel-sel imun. Tubuh manusia memiliki dua jenis sistem imunitas yanng diperankan oleh leukosit atau sel darah putih, yaitu imunitas bawaan (alami/innate), dan imunitas didapat (adaptif/acquired). Komponen seluler imunitas alami terdiri atas monosit (fagosit mononuklear), neutrofil (fagosit polimorfonuklear, PMN), dan sel pembunuh alami (natural killer cell/NKC); sedangkan imunitas adaptif melibatkan beberapa subtipe limfosit (T dan B) dan memanfaatkan antibodi sebagai protein efektornya.

Terkait dengan hal ini, Dr. Sri Puji mengutip Akbar dkk (2017) dalam Cellular and Molecular Immunologi, bahwa imunitas alami terhadap virus akan muncul sampai hari ke-5 dan telah mencapai puncaknya. Sel fagosit dan sel NK berusaha untuk mencegah dan membunuh virus supaya tidak dapat melekat pada sel tubuh. Selanjutnya, terbentuklah imunitas adaptif dari hari ke-6 sampai hari ke-12 dan limfosit yang berperan.

Seandainya serangan virus yang sama masih terus berlanjut, maka semakin banyak limfosit yang dihasilkan dan berdampak pada terjadinya peningkatan produksi antibodi. Pada awal virus masuk tubuh manusia, antibodi sangat efektif untuk netralisasi virus sehingga mencegah perlekatan dan masuknya virus ke dalam sel. Antibodi isotipe IgA yang disekresikan saluran pernapasan sangat berguna untuk mengenali virus, melakukan opsonisasi dari partikel virus, dan meningkatkan pembersihan virus oleh fagosit sehingga mencegah persebaran virus dari sel ke sel.

“Akan tetapi, apabila virus sudah berada di dalam sel, antibodi sudah tidak dapat mengaksesnya. Selanjutnya, sel imun yang berperan adalah limfosit T sitotostik. Limfosit ini akan membunuh sel-sel manusia yang telah terinfeksi virus. Maka, peran sel-sel imun sangat penting dalam penanggulangan virus korona,” ujar Dr. Sri Puji.

Antibodi yang diproduksi oleh sel imun bersifat sangat spesifik terhadap virus atau bagian dari virus. Apabila virus yang menginfeksi tersebut mengalami mutasi, sistem imun akan mampu membentuk antibodi baru yang berbeda dengan antibodi sebelumnya. Jadi, tubuh dapat membuat bermacam-macam antibodi terhadap virus atau bagian dari virus dalam jumlah yang tidak terbatas.

Maka, sangat dibutuhkan untuk menjaga kondisi tubuh tetap sehat sehingga dapat memodulasi sistem kekebalan tubuh untuk dapat bekerja dengan baik. Salah satunya, adalah menyeimbangkan antara kadar oksidan dan antioksidan.

Ilustrasi sumber antioksidan. (Sumber: halodoc.com)

Oksidan terbentuk karena aktivitas metabolik dan dipicu oleh aktivitas lingkungan, seperti radiasi sinar ultraviolet (UV), polutan lingkungan, obat-obatan, pengawet makanan, asap rokok, induksi penyakit, dan lainnya. Sementara itu, Antioksidan bertindak untuk melindungi sel-sel imun tubuh dari oksidan.

Antioksidan alami berupa enzim-enzim yang telah ada dalam tubuh dan bisa juga diperoleh dari makanan. Makanan yang termasuk antioksidan adalah prebiotik, probiotik, buah-buahan (anggur, jeruk, blueberry, stroberi, blackberry, dan crowberry), sayuran (tomat, kacang-kacangan, brokoli, bit, jamur, jagung, kol putih, kubis, kembang kol, bayam, bawang putih, bawang merah, biji kakao, dan kedelai), rempah-rempah (Rosemary, oregano, dan thyme), serta minuman (teh dan anggur).

Dr. Sri Puji juga mengutip penelitiannya pada tahun 2019 bahwa buah okra hijau dan merah yang banyak tumbuh di Indonesia berpotensi sebagai antioksidan kuat dan dapat memperkuat sel-sel imun karena mengandung banyak senaywa flavonoid, fenolik, dan polisakarida. Jumlah antioksidan yang memadai sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan sel-sel imun.

“Pada masa pandemi ini, konsumsi bahan makanan yang mengandung antioksidan dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh sehingga mencegah masuknya penyakit, termasuk infeksi COVID-19”, tegasnya.

Dengan uraian tersebut, proteksi akibat mutasi virus membutuhkan imunitas baru dalam diri seseorang sehingga sistem kekebalan tubuh inilah yang seharusnya dijaga dengan baik.

“yang bisa kita lakukan untuk menghindari infeksi COVID-19 adalah dengan mengikuti protokol kesehatan dan meningkatkan sistem imun dalam tubuh,” tutup Dr. Sri Puji.

Penulis: Dr. Sri Puji Astuti Wahyuningsih

Sumber: Pressreader

More
articles

id_IDIndonesian